Senin, 12 Juli 2021

Assalamualaikum wr.wb

Nama   : Indri aulia

Nim     : 11901143

Kelas   : PAI 4D

Makul  : Magang 1

Judul buku : MEMBACA SASTRA (Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi)

Penulis  : Melani Budianta,Ida Sundari Husen,Manneke Budiman,Wahyudi

Penerbit : Indonesia Tera

Tahun terbit : September, 2008, cetakan ke-4 (empat)

4.Laporan Bagian Buku Bab 4 membahas materi tentang Drama, yang mencangkup ,Hakikat Drama, Karakteristik, Elemen Drama,dan Sarana Dramatik, Pengkategorian Drama.

4.1 Hakikat Drama

Terlepas dari apakah karya drma itu nantinya dipentaskan atau hanya sekedar dibaca saja,pada intinya apa yang disebut dengan drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan diantara tokoh-tokoh yang ada. Selain didominasi oleh cakapan yang langsung itu, lazimnya sebuah karya drama juga memperlihatkan adanya semacam petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan oleh tokoh. Pengertian umum mengenai karya drama ini mengikuti batasan sebagaimana pernah dikemukan oleh Sir Jhon Pollock (1958) bahwa “ a play as a work of art composed of work spoken,of motion performed,by imagined characters and having a subject,action,develoment, climax and conclusion”.

Tidak semua karya drama ternyata berkesempatan untuk dipentaskan. Ada sejumlah karya drama yang sangat populer, yang berkali-kali dipentaskan diberbagai kesempatan dan diberbagai tempat. Sebaliknya,banyak pula karya drama yang berhenti sebagai semata-mata bacaan; tanpa pernah dipentaskan sama sekali. Drama yang cenderung lebih tepat untuk dibaca saja,meskipun secara verbal juga memperlihatkan adanya cakapan dan petunjuk pemanggungan, lazim disebut sebagai closet drama atau “drama baca”  dalam istilah indonesia.

Sejarah Ringkas : sebagai istilah,”drama” dan “teater” ini datang atau kita pinjam dari khazanah kebudayaan barat.secara lebih khusus, asal kedua istilah ini adalah dari kebudayaan atau tradisi bersastra diyunani,pada awalnya ,diyunani ini,baik”drama”maupun “teater” muncul dari rangkaian upacara keagamaan ,suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Istilah “drama” itu sendiri,seperti dikemukan oleh Boen S. Oemarjati (1971),pada masa Aeschylus (525-456 SM) satu diantara tiga penyair tragedi yunani sudah menyiratkan makna ‘peristiwa’, ’karangan’, dan ‘risalah’ . Sedangkan istilah “teater” yang berasal dari “theatron”yang juga merupakan turunan dari kata “theaomai” mengandung makna ‘dengan takjub melihat atau memandang’ . secara khusus lagi, pada masa thucydes (471-395 SM) dan Plato ( 428-384 SM), “ taeter” juga dimaksudkan sebagai ‘gedung pertunjukan,panggung’ , atau ‘publik,auditorium’ pada zaman Herodotus (490-424 SM), dan ‘karangan tonil’ , sebagaimana disebutkan dalam kitab perjanjian lama.

Pada masa awal pertumbuhannya dibarat, sebagai betuk upacara agama,drama dilakasanakan dilapangan terbuka. Para penonton duduk melingkar atau membentuk setengah lingkaran,sedangkan upacara dilakukan ditengah lingkaran tersebut. Sementara pada teater di Yunani khususnya ,tempat penonton berada membentuk setengah lingkaran yang semakin besar radiusnya,semakin tinggi tempat duduk penonton bersangkuatan. Bentuk seperti ini dikenal sebagai amphitheater,yang dibuat sedemikian rupa itu pada zaman itu,sesuai dengan sifat drama dan merupakan suatu penyiasatan terhadap mutu suara maupun pandangan penonton yang masih belum terbantu oleh penemuan teknologi pandang-dengar (audio-visual),seperti sekarang ini.

Perkembangan drama ,pada gilirannya kemudian, memperlihatkan adanya pergeseran dari ritual keagamaan menuju kepada suatu oratoria, suatu seni berbicara yang mempertimbangkan intonasi ubtuk mendapatkan efektivitas komunikasi.dari oratoria ini, kemudian perkembangan memperlihatkan adanya dua kecenderungan besar.di satu pihak, ada kecenderungan oratoria yang sarat dengan musik sebagai elemen utamanya, yang hingga kini kita kenal dengan opera dan operet, dan di pihak lain muncul pula bentuk oratoria yang hanya mengandalkan cakapan atau dialog sebagai elemen utama seperti yang kini kita kenal sebagai drama.

Dan sudah barang tentu,bentuk-bentuk teater mengalami perkembangan pula sejajar dengan perkembangan drama dan perkembangan teknologi pandang-dengar yang ada.

4.2 Karakteristik,Elemen Drama, Dan Sarana Dramatik

Apa yang disebut sebagai “cakapan” atau “dialog” tidak lain adalah suatu sarana yang telah disediakan oleh penulisnya agar cerita atau kisah yang ditampilkan itu nantinya berujud suatu percakapan yang diujarkan oleh para pemain sehingga pendengar atau penonton (audience) dapat mengikuti alur cerita melalui apa yang mereka denga.demikian pula dengan “petunjuk pemanggungan” (stage directions),pada intinya adalah sebuah sarana pemandu yang disediakan oleh penulis drama untuk memberikan gambaran mengenai tempat, suasana, atmosfer, status sosial tokoh, dan sebagai nya,yang dapat dilihat secara langsung oleh penonton.petunjuk pemanggungan ini tentu saja juga berfungsi untuk menuntun pembaca atau mereka yang akan mementaskan karya drama bersangkutan kedalam suatu latar tertentu sesuai dengan apa yang diniatkan atau dikehendaki oleh penulisnya. Kendati demikian, interprestasi bebas terhadap petunjuk pemanggungan yang ada ,sangat dimungkinkan.

Elemen Drama,sebagaimana prosa khususnya,pada karya drama pun dapat dijumpai pula adanya elemen-elemen tokoh,alur,dan kerangka situasi cerita yang saling menunjang satu sama dengan lainnya.akan tetapi,jika didalam prosa, tokoh-tokoh yang muncul itu cenderung berhenti dalam imajinasi atau identifikasi subjektif pembaca saja, tidak demikian halnya yang terjadi pada drama mengingat drama berkemungkinan untuk melaksanakan interprestasi tokoh-tokoh itu dalam bentuk konkret.sebagai akibat dari kondisi yang demikian ini ,maka didalam drama,tingkat kepentingan antara tokoh dengan alur menjadi seimbang.

W.H. Hudson (1958) mengemukakan adanya dua jalur pendapat ,yaitu (a) alur lebih dipentingkan,sedangkan tokoh hanya untuk mengisi dan menyelesaikan alur itu,dan (b) tokoh yang lebih penting,sedangkan alur hanya dipergunakan untuk mengembangkan tokoh. Dan hudson sendiri,berkenaan dengan hal ini, cenderung mengatakan bahwa pementingan terhadap tokoh lebih utama dibandingkan dengan pementingan terhadap alur. Menurutnya, sesuatu cerita akan meninggalkan kesan yang dalam dan bahkan mungkin “abadi”lantaran penokohan didalam cerita itu begitu kuat dan meyakinkan dalam menbangun alur cerita. Sementara, apabila alur saja yang menarik karena kerumitan atau kompleksitas masalahnya,ia cenderung mengendap sebentar dan segera menguap.

Namun demikian, tentu banyak pula yang berpendapat bahwa alur lebih penting dari pada tokoh; tokoh hanyalah subordinat saja dari alur,seperti dikemukan oleh Bernard Grebanier (1981). Banyaka sekali ahli yang mengatakan bahwa drama yang baik harus selalu memperlihat adanya konflik atau konflik yang dikatan Hudson ,atau juga konflik dan oposisi seperti disebutkan Grebanier.adanya konflik-konflik semacam ini menjadi jelas bagi kita bahwa drama lazimnya akan memberikan kepada pembaca maupun penontonya”perjalanan” cerita yang dialami oleh konflik-konflik itu. Dalam istilah Hudson, “perjalan” itu disebut dramatic-line yang secara garis besar adalah: (a) pemaparan/eksposisi (exsposition); (b) penggawatan/komplikasi; (c) krisis/klimaks; (d) pelarian/antiklimaks; (e) penyelesaian.

Sarana Dramatik, agar tema dalam sebuah drama dapat lebih dipahami dan lebih “hidup” ketika dipentaskan,sejumlah penulis drama biasa memanfaatkan berbagai sarana dramatik, yaitu dengan monolog (monologue), solilokui (soliloquy), dan sampingan (aside) . yang dimaksud dengan “monolog” adalah sebuah komposisi yang tertulis –dalam naskah drama-atau yang berbentuk lisan yang menyajikan wacana satu orang pembicara. Dalam sebuah pementasan, istilah ini menunjuk pada ujaran yang dilakukan oleh satu tokoh yang biasanya menjelaskan segala sesuatu yang sudah terjadi.

“solilokui” sepintas lalu agak mirip dengan monolog dalam hal tampilnya seorang tokoh atau pemain. Pada solilokui , yang diujarkan atau diucapkan oleh tokoh biasanya panjang dan isinya merupakan pemikiran subjektif yang ditunjukan kepada penonton untuk menyarankan hal-hal yang akan terjadi.

“sampingan” , biasanya memang lebih tampak pada sebuah pementasan, menggambarkan adanya ujaran yang ditunjukan kepada para penonton.ujaran tersebut sengaja agar tidak didengar oleh pemain lainnya,karena ujaran yang diucapkan biasanya berisi pikiran tokoh itu sendiri yang berisi komentar terhadap peristiwa yang tengah berlangsung. Dalam pementasan, pemain yang mengucapkan ini biasanya mengarahkan wajahnya atau memalingkan mukanya kearah penonton, dan cenderung menepati posisi disamping pentas.

4.3 Pengkategorian Drama

Naskah yang masuk kategori pertama disebut sebagai drama pentas atau drama saja, dan yang hanya tepat untuk dibaca saja disebut sebagai drama baca. Karya drama yang cara pengungkapannya diikat-baik secara ketat maupun longgar-dengan bar ini, pada kenyataan yang kita hadapi dapat berupa opera atau operet. Yang dimaksud dengan opera adalah karya drma yang sangat mengutamakan nyanyian dan hampir keseluruhan adegan dilakukan dengan cara benyanyi ini. Sedangkan operet, yang sering juga disebut sebagai opera ringan, cara penyajiannya tidak selalu dinyanyikan tetapi terkadang diseling pula dengan cakapan atau dialog antara para pemain. Selain itu operet biasanya juga hanya berbentuk drama satu babak.

Berdasarkan pola sajiannya-yang tentu saja berkaitan erat dengan tema atau alur yang dibangun –terdapat berbagai –jenis drama. Dari sekian banyak pola sajian drama yang pernah ada , penenalan terhadap lima buah sajian drama yang populer perlu dipahami secara sederhana disini.

Kelima bentuk drama tersebut adalah tragedi, komedi, tragikomedi, melodrama, dan farce. “tragedi” adalah sebuah drama yang ujung kisahnya berakhir dengan kedukaan atau dukacita. “komedi” berakhir dengan suka cita . Didalam membangun kesukacitaan ini, pengarang karya drama tersebut lebih menumpukan hadirnya gelak tawa melalui pemilihan diksi atau pilihan kata yang cerdas.karena warna drama ini penuh gelak tawa, seringkali drama ini disebut drama gelak.sebuah sajian drama yang mengambungkan tragedi dan komedi disebut dengan “tragikomedi” . Sedangkan “melodrama”  sesungguhnya berdasarkan dari alur opera yang dicakapkan dengan iringan musik. Atau dapat saja berupa sebuah pementasan yang ketika tanpa ada cakapan apa pun, emosi dibangun melalui musik. Dan terakhir adalah “farce” , yang secara umum dapat dikatakan sebagai sebuah sajian drama yang bersifat karikatural. Sebagai kisahan, ia bercorak komedi, tetapi gelak yang muncul itu sendiri ditampilkan melalui ucapan dan perbuatan. Dalam konteks masa kini, banyak yang menyamakan farce dengan “komedi situasi” disejumlah tanyangan televisi.

Wassalamualaikum wr.wb 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar