Assalamualaikum
wr.wb
Nama : Indri aulia
Nim :
11901143
Kelas : PAI 4D
Makul : Magang 1
Judul buku : MEMBACA SASTRA (Pengantar Memahami
Sastra untuk Perguruan Tinggi)
Penulis : Melani
Budianta,Ida Sundari Husen,Manneke Budiman,Wahyudi
Penerbit : Indonesia Tera
Tahun terbit : September, 2008,
cetakan ke-4 (empat)
4.Laporan Bagian Buku Bab 4 membahas materi tentang Drama, yang mencangkup ,Hakikat
Drama, Karakteristik, Elemen Drama,dan Sarana Dramatik, Pengkategorian Drama.
4.1 Hakikat Drama
Terlepas dari apakah karya drma itu nantinya dipentaskan atau hanya sekedar
dibaca saja,pada intinya apa yang disebut dengan drama adalah sebuah genre
sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue
atau cakapan diantara tokoh-tokoh yang ada. Selain didominasi oleh cakapan yang
langsung itu, lazimnya sebuah karya drama juga memperlihatkan adanya semacam
petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau
apa yang dilakukan oleh tokoh. Pengertian umum mengenai karya drama ini
mengikuti batasan sebagaimana pernah dikemukan oleh Sir Jhon Pollock (1958)
bahwa “ a play as a work of art composed of work spoken,of motion performed,by
imagined characters and having a subject,action,develoment, climax and
conclusion”.
Tidak semua karya drama ternyata berkesempatan untuk dipentaskan. Ada
sejumlah karya drama yang sangat populer, yang berkali-kali dipentaskan
diberbagai kesempatan dan diberbagai tempat. Sebaliknya,banyak pula karya drama
yang berhenti sebagai semata-mata bacaan; tanpa pernah dipentaskan sama sekali.
Drama yang cenderung lebih tepat untuk dibaca saja,meskipun secara verbal juga
memperlihatkan adanya cakapan dan petunjuk pemanggungan, lazim disebut sebagai closet
drama atau “drama baca” dalam istilah indonesia.
Sejarah Ringkas : sebagai istilah,”drama” dan “teater” ini datang atau kita
pinjam dari khazanah kebudayaan barat.secara lebih khusus, asal kedua istilah
ini adalah dari kebudayaan atau tradisi bersastra diyunani,pada awalnya
,diyunani ini,baik”drama”maupun “teater” muncul dari rangkaian upacara
keagamaan ,suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Istilah “drama” itu
sendiri,seperti dikemukan oleh Boen S. Oemarjati (1971),pada masa Aeschylus (525-456
SM) satu diantara tiga penyair tragedi yunani sudah menyiratkan makna
‘peristiwa’, ’karangan’, dan ‘risalah’ . Sedangkan istilah “teater” yang
berasal dari “theatron”yang juga merupakan turunan dari kata “theaomai”
mengandung makna ‘dengan takjub melihat atau memandang’ . secara khusus lagi,
pada masa thucydes (471-395 SM) dan Plato ( 428-384 SM), “ taeter” juga
dimaksudkan sebagai ‘gedung pertunjukan,panggung’ , atau ‘publik,auditorium’
pada zaman Herodotus (490-424 SM), dan ‘karangan tonil’ , sebagaimana
disebutkan dalam kitab perjanjian lama.
Pada masa awal pertumbuhannya dibarat, sebagai betuk upacara agama,drama
dilakasanakan dilapangan terbuka. Para penonton duduk melingkar atau membentuk
setengah lingkaran,sedangkan upacara dilakukan ditengah lingkaran tersebut.
Sementara pada teater di Yunani khususnya ,tempat penonton berada membentuk
setengah lingkaran yang semakin besar radiusnya,semakin tinggi tempat duduk
penonton bersangkuatan. Bentuk seperti ini dikenal sebagai amphitheater,yang
dibuat sedemikian rupa itu pada zaman itu,sesuai dengan sifat drama dan
merupakan suatu penyiasatan terhadap mutu suara maupun pandangan penonton yang
masih belum terbantu oleh penemuan teknologi pandang-dengar (audio-visual),seperti
sekarang ini.
Perkembangan drama ,pada gilirannya kemudian, memperlihatkan adanya
pergeseran dari ritual keagamaan menuju kepada suatu oratoria, suatu seni
berbicara yang mempertimbangkan intonasi ubtuk mendapatkan efektivitas
komunikasi.dari oratoria ini, kemudian perkembangan memperlihatkan adanya dua
kecenderungan besar.di satu pihak, ada kecenderungan oratoria yang sarat dengan
musik sebagai elemen utamanya, yang hingga kini kita kenal dengan opera dan
operet, dan di pihak lain muncul pula bentuk oratoria yang hanya mengandalkan
cakapan atau dialog sebagai elemen utama seperti yang kini kita kenal sebagai
drama.
Dan sudah barang tentu,bentuk-bentuk teater mengalami perkembangan pula
sejajar dengan perkembangan drama dan perkembangan teknologi pandang-dengar
yang ada.
4.2 Karakteristik,Elemen Drama, Dan Sarana Dramatik
Apa yang disebut sebagai “cakapan” atau “dialog” tidak lain adalah suatu
sarana yang telah disediakan oleh penulisnya agar cerita atau kisah yang
ditampilkan itu nantinya berujud suatu percakapan yang diujarkan oleh para
pemain sehingga pendengar atau penonton (audience) dapat mengikuti alur cerita
melalui apa yang mereka denga.demikian pula dengan “petunjuk pemanggungan”
(stage directions),pada intinya adalah sebuah sarana pemandu yang disediakan
oleh penulis drama untuk memberikan gambaran mengenai tempat, suasana,
atmosfer, status sosial tokoh, dan sebagai nya,yang dapat dilihat secara
langsung oleh penonton.petunjuk pemanggungan ini tentu saja juga berfungsi
untuk menuntun pembaca atau mereka yang akan mementaskan karya drama
bersangkutan kedalam suatu latar tertentu sesuai dengan apa yang diniatkan atau
dikehendaki oleh penulisnya. Kendati demikian, interprestasi bebas terhadap
petunjuk pemanggungan yang ada ,sangat dimungkinkan.
Elemen Drama,sebagaimana prosa khususnya,pada karya drama pun dapat
dijumpai pula adanya elemen-elemen tokoh,alur,dan kerangka situasi cerita yang
saling menunjang satu sama dengan lainnya.akan tetapi,jika didalam prosa,
tokoh-tokoh yang muncul itu cenderung berhenti dalam imajinasi atau
identifikasi subjektif pembaca saja, tidak demikian halnya yang terjadi pada
drama mengingat drama berkemungkinan untuk melaksanakan interprestasi
tokoh-tokoh itu dalam bentuk konkret.sebagai akibat dari kondisi yang demikian
ini ,maka didalam drama,tingkat kepentingan antara tokoh dengan alur menjadi
seimbang.
W.H. Hudson (1958) mengemukakan adanya dua jalur pendapat ,yaitu (a) alur
lebih dipentingkan,sedangkan tokoh hanya untuk mengisi dan menyelesaikan alur
itu,dan (b) tokoh yang lebih penting,sedangkan alur hanya dipergunakan untuk
mengembangkan tokoh. Dan hudson sendiri,berkenaan dengan hal ini, cenderung
mengatakan bahwa pementingan terhadap tokoh lebih utama dibandingkan dengan
pementingan terhadap alur. Menurutnya, sesuatu cerita akan meninggalkan kesan
yang dalam dan bahkan mungkin “abadi”lantaran penokohan didalam cerita itu
begitu kuat dan meyakinkan dalam menbangun alur cerita. Sementara, apabila alur
saja yang menarik karena kerumitan atau kompleksitas masalahnya,ia cenderung
mengendap sebentar dan segera menguap.
Namun demikian, tentu banyak pula yang berpendapat bahwa alur lebih penting
dari pada tokoh; tokoh hanyalah subordinat saja dari alur,seperti dikemukan
oleh Bernard Grebanier (1981). Banyaka sekali ahli yang mengatakan bahwa drama
yang baik harus selalu memperlihat adanya konflik atau konflik yang dikatan
Hudson ,atau juga konflik dan oposisi seperti disebutkan Grebanier.adanya
konflik-konflik semacam ini menjadi jelas bagi kita bahwa drama lazimnya akan
memberikan kepada pembaca maupun penontonya”perjalanan” cerita yang dialami
oleh konflik-konflik itu. Dalam istilah Hudson, “perjalan” itu disebut dramatic-line yang
secara garis besar adalah: (a) pemaparan/eksposisi (exsposition); (b)
penggawatan/komplikasi; (c) krisis/klimaks; (d) pelarian/antiklimaks; (e)
penyelesaian.
Sarana Dramatik, agar tema dalam sebuah drama dapat lebih dipahami dan
lebih “hidup” ketika dipentaskan,sejumlah penulis drama biasa memanfaatkan
berbagai sarana dramatik, yaitu dengan monolog (monologue), solilokui
(soliloquy), dan sampingan (aside) . yang dimaksud
dengan “monolog” adalah sebuah komposisi yang tertulis –dalam naskah drama-atau
yang berbentuk lisan yang menyajikan wacana satu orang pembicara. Dalam sebuah
pementasan, istilah ini menunjuk pada ujaran yang dilakukan oleh satu tokoh
yang biasanya menjelaskan segala sesuatu yang sudah terjadi.
“solilokui” sepintas lalu agak mirip dengan monolog dalam hal tampilnya
seorang tokoh atau pemain. Pada solilokui , yang diujarkan atau diucapkan oleh
tokoh biasanya panjang dan isinya merupakan pemikiran subjektif yang ditunjukan
kepada penonton untuk menyarankan hal-hal yang akan terjadi.
“sampingan” , biasanya memang lebih tampak pada sebuah pementasan,
menggambarkan adanya ujaran yang ditunjukan kepada para penonton.ujaran
tersebut sengaja agar tidak didengar oleh pemain lainnya,karena ujaran yang
diucapkan biasanya berisi pikiran tokoh itu sendiri yang berisi komentar
terhadap peristiwa yang tengah berlangsung. Dalam pementasan, pemain yang
mengucapkan ini biasanya mengarahkan wajahnya atau memalingkan mukanya kearah
penonton, dan cenderung menepati posisi disamping pentas.
4.3 Pengkategorian Drama
Naskah yang masuk kategori pertama disebut sebagai drama pentas atau
drama saja, dan yang hanya tepat untuk dibaca saja disebut sebagai drama
baca. Karya drama yang cara pengungkapannya diikat-baik secara ketat maupun
longgar-dengan bar ini, pada kenyataan yang kita hadapi dapat berupa opera atau
operet. Yang dimaksud dengan opera adalah karya drma yang sangat mengutamakan
nyanyian dan hampir keseluruhan adegan dilakukan dengan cara benyanyi ini.
Sedangkan operet, yang sering juga disebut sebagai opera ringan, cara
penyajiannya tidak selalu dinyanyikan tetapi terkadang diseling pula dengan cakapan
atau dialog antara para pemain. Selain itu operet biasanya juga hanya berbentuk
drama satu babak.
Berdasarkan pola sajiannya-yang tentu saja berkaitan erat dengan tema atau
alur yang dibangun –terdapat berbagai –jenis drama. Dari sekian banyak pola sajian
drama yang pernah ada , penenalan terhadap lima buah sajian drama yang populer
perlu dipahami secara sederhana disini.
Kelima bentuk drama tersebut adalah tragedi, komedi, tragikomedi,
melodrama, dan farce. “tragedi” adalah sebuah drama
yang ujung kisahnya berakhir dengan kedukaan atau dukacita. “komedi” berakhir
dengan suka cita . Didalam membangun kesukacitaan ini, pengarang karya drama
tersebut lebih menumpukan hadirnya gelak tawa melalui pemilihan diksi atau
pilihan kata yang cerdas.karena warna drama ini penuh gelak tawa, seringkali
drama ini disebut drama gelak.sebuah sajian drama yang mengambungkan tragedi
dan komedi disebut dengan “tragikomedi” . Sedangkan
“melodrama” sesungguhnya berdasarkan dari alur opera yang dicakapkan
dengan iringan musik. Atau dapat saja berupa sebuah pementasan yang ketika
tanpa ada cakapan apa pun, emosi dibangun melalui musik. Dan terakhir adalah
“farce” , yang secara umum dapat dikatakan sebagai sebuah sajian drama yang
bersifat karikatural. Sebagai kisahan, ia bercorak komedi, tetapi gelak yang
muncul itu sendiri ditampilkan melalui ucapan dan perbuatan. Dalam konteks masa
kini, banyak yang menyamakan farce dengan “komedi situasi” disejumlah tanyangan
televisi.
Wassalamualaikum wr.wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar