Nama : Indri aulia
Judul
: Filsafat Ilmu
Penulis
: Drs. H. A. Fuad Ihsan
Penerbit
: Rineka Cipta, 2010
Kota
Terbit
: Jakarta, cetakan pertama, Februari 2010
Garis besar buku Fuad Ihsan yang berjudul Filsafat
Ilmu terdiri atas 8 bab, yakni:
1. Bab I membicarakan
tentang mengenal filsafat ilmu, mencakup Pengertian Filsafat dan Filsafat Ilmu,
Definisi Filsafat dan Filsafat Ilmu, Objek dan Metode Filsafat Ilmu,
Cabang-cabang Filsafat dan Kegunaan Filsafat serta Ruang Lingkup Filsafat.
Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seseorang manusia
yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan
kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat
kebenaran segala sesuatu.
Dikatakan filsafat sebagai ilmu karena dalam pengertian
filsafat terkandung pertanyaan ilmiah, yaitu: bagaimakah, mengapakah,
ke manakah dan apakah. Berfikir secara filsafat dapat
diartikan sebagai berfikir yang sangat mendalam sampai kepada hakikat,
atau berfikir secara global (menyeluruh), atau berfikir yang dilihat dari
berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Untuk
dapat memeroleh ilmu salah satu yang harus dipahami oleh seoranag ilmuwan
adalah mengetahui cara apa yang harus digunakan? Ilmu dapat digali atau dicari
menggunakan prosedur yang disebut metode ilmiah.
Langkah-langkah sebagai alur berpikir ilmiah yang
tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam suatu prosedur yang
mencerminkan tahapan-tahapan dalam kegiatan ilmiah sebagai berikut:
a. Rumusan Masalah
b. Menentukan khasanah pengetahuan
ilmiah
c. Penyusunan kerangka berpikir
dalam penyususnan hipotesis
d. Penyusunan hipotesis
e. Pengujian hipotesis
f. Penarikan kesimpulan
Cabang filsafat menurut para ahli terdiri atas:
Metafisika, logika, etika, estetika, epistemologi, dan filsfat-filsfat khusus
lainnya. Manfaat mempelajari filsafat ada bermacam-macam. Namun
sekurang-kurangnya ada empat macam faedah, yaitu:
g. Agar terlatih berpikir serius
h. Agar mampu memahami filsafat
i. Agar mungkin
menjadi ahli filsafat
j. Agar menjadi warga
negara yang baik
Pembagian filsafat berdasarkan struktur pengetahuan
filsafat yang berkembang sekarang ini, terbagi menjadi tiga bidang, yaitu
filsafat sistematis, filsafat khusus, dan filsafat keilmuan.
2. Bab II membicarakan
Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu, mencakup Sumber Filsafat, Filsafat, Ilmu,
Kebudayaan, dan Agama, serata Metode Ilmiah;
Untuk dapat memahami perbedaan antara filsafat dan ilmu,
harus terjawab terlebih dahulu apa itu filsafat?, dan apa itu ilmu?, pertanyaan
pertama telah dujelaskan penulis pada bagian bab 1. Maka sekarang yang harus
kita jawab pertanyaan kedua. Ilmu adalah pengetahuan. Tetapi ada berbabagai
pengetahuan. Dengan “pengetahuan ilmu” dimaksud pengetahuan yang pasti, eksat
dan betul-betul terorganisasi. Jadi pengetahuan yang berasaskan kenyataan dan
tersusun baik.
Untuk memahami hubungan filsafat dengan kebudayaan, harus
terjawab pertanyaan berikut terlebih dahulu. Apa itu kebudayaan?. Kebudayaan
adalah soal manusia. Maju selangkah lagi dapat kita katakan, bahwa manusialah
yang berkebudayaan. Apakah makhluk-makhluk lain, hewan misalnya, tidak
berkebudayaan? Jawabannya Tidak. Kenapa manusia berkebudayaan sedangkan hewan
tidak? Karena manusia memiliki sesuatu yang esensial yang tidak ada pada hewan.
Manusia mempunyai roh atau jiwa, yang menyatakan diri pada berpikir dan merasa
rohaniah. Hewan memang mempunyai otak tapi otaknya tidak berpikir. Ia mempunyai
hati, tapi aktivitasnya tidak membentuk rasa rohaniah. Rupanya kehidupan
batiniah atau rohaniahlah yang merupakan pangkal kebudayaan. Suatu kebudayaan
ialah caraberpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi
kehidupan sekelompok manusia, yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang
dan suatu waktu.
Filsafat agama datang mengetengahi sebagai orang agama,
filsuf itu percaya, hasil penghayatan hatinya. Sebagai filsuf, ia mempersoalkan
kepercayaan itu mengangkat ke alam budi, sehinggah secara rasional dapat
didudukan. Persamaan lain antara filsafat dan agama ialah, masing-masing
merupakan sumber nilai, terutama nilai-nilai etika. Perbedaannya lagi dalam hal
ini, nilai-nilai etika filsafat merupakan produk akal, sedangkan nilai-nilai
agama dipercayai sebagai ditentukan oleh Tuhan.
Ada beberapa teori yang dapat dijadikan acuan untuk
menjadikan untuk menentukan apakah pengetahuan itu benar atau salah, yaitu :
a. Teori korespondensi
( correspondence theory )
b. Teori koherensi (
coherence thory )
c. Teori
pragmatisme ( pragmatism theory )
Persoalan pengetahuan yang bertalian dengan sumber-sumber
pengetahuan, dijawab oleh aliran-aliran berikut ini : rasionalisme, emperisme,
realissme, kritisisme. Persoalan pengetahuan yang menekankan pada hakikat
pengetahuan, dijawab oleh aliran-aliran berikut: idealisme,
emperisme,positivisime,pragmatisme
Manusia berusahamencari pengetahuan dan kebenaran, yang
dapat diperolehnya denga melalui beberapa sumber :
a. Pengetahuan Wahyu (
revaled knowledge )
b. Pengetahuan intuitf ( intuitive
knowledge )
c. Pengetahuan rasional (
rational knowledge )
d. Pengetahuan emperis ( emperical
knowledge )
e. Pengetahuan otoritar (
autthoritative knowledge )
3. Bab III tentang
Dasar-dasar Pengetahuan mencakup, Definisi dan Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan,
Penalaran dan Logika, Sumber Pengetahuan, Kriteria dan Cara Penemuan Kebenaran
serta Ilmu, Teknologi dan Seni;
Adapun menurut Bahm definisi ilmu pengetahuan melibatkan
paling tidak enam macam komponen, yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas,
kesimpulan dan beberapa pengaruh. Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah
mempunyai lima ciri pokok antara lain: empiris, sistematis, objektif, analitis,
dan Vertifikatif.
Prinsip-prnsip penalaran ada empat yang terdiri atas tiga
prinsip dari Aristoteles dan satu dari George Leibniz. Prinsip penalarandari
Aristoteles adalah: prinsip identitas, kontraiksi, eksklusi tertii dan pinsip
cukup alasan (Leibniz). Proposisi kategoris menghasilkan empat proposisi yakni
sebagai berikut: Proposisi universal afirmatif, universal negatif, partikular
afirmatif dan proposisi partikular negatif.
Buah dari berpikir adalah pengetahuan. Berpikir adalah
suatu proses, proses berpikir ini biasa disebut sebagai bernalar.Logika sebagai
sarana berpikir ilmiah akan memberikan suatu jaminan bahwa pengetahuan yang
didapat sebagai hasil penarikan simpulan atau konklusi itu adalan sahih. Logika
menuntut dan menjaga proses berpikir itu terhindar dari kekeliruan-kekeliruan,
sehingga dengan demikian kecermatan dalam berpikir dapat dicapai.
Sumber pengetahuan dapat diperoleh melalui rasionalisme,
empirisme, intuisi, dan wahyu. Untuk menentukan kebenaran suatu pengetahuan ada
tiga teori yang dapat dijadikan sebagai kriteria, yaitu: Teori koherensi,
korespondensi dan teoripragmatism.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk
memperoleh kebenaran melalui cara nonilmiah, di antaranya adalah:
1) Akal sehat
2) Prasangka
3) Pendekatan intuasi
4) Penemuan kebetulan dan coba-coba
5) Pendekatan otoritas ilmiah dan
pikiran kritis
Ilmu, teknologi, dan seni sebagai produk menjadi milik
manusia. Artinya ilmu, teknolohgi, dan seni didapat melalui pola berfikie
analogi ilmiah derngan menggunakan metode keilmuan yang runtut membawa
kearahtitik temu pada suatu konklusi yang bersifat nisbi, namun terhindar
dari dekadensi silang pendapat fundamental dikalangan bagi para ilmuan dalam
kurun waktu, sehingga terbuka untuk dimungkinkan adanya pembuktian dan
pengujian akan kebenarannya.
4. Bab IV tentang
Filsafat Abad Modern mencakup Bagaimanakah perkembangan filsfafat pada massa
Renaisnance, Ranasionalisme, Idealisme, Empirisme, Kantianisme, dan pada massa
yang lainnya seperti: Pragmatisme, Eksistensialisme, Positivisme, Marxisme, dan
Anti Theisme atau Atheisme.
5. Bab V tentang
Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan mencakup Zaman Purba (15 SM – 7 SM),
Zaman Yunani (7 SM – 6 SM), Zaman Pertengahan, Zaman Renaissance, Zaman Modern,
dan Zaman Kontemporer.
Secara umum dapat dinyatakan bahwa pengetahuan pada zaman
purba ditandai dengan adanya lima kemampuan, yaitu: (1) pengetahuan didasarkan
pada pengalaman; (2) pengetahuan berdasarkan pengalaman itu diterima sebagai
fakta dengan sikap receptive mind; (3) kemampuan menemukan
abjad dan sistem bilangan alam sudah menampakkan perkembangan pemikiran manusia
ke tingkat abstraksi; (4) kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender yang
didasarkan atas sintesis; (5) kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis
atas dasar peristiwa-peristiwa sebelumnya yangpernah terjadi.
Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan
filsafat,karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan
ide-ide atau pendapatnya. Selanjutnya pada Zaman pertengahan merupakan suatu
kurun waktu yang ada hubungannya dengan sejarah bangsa-bangsa di benua eropa.
Zaman pertengahan ini ditandai dengan pengaruh yang cukup besar dari agam
Katolik terhadap kekaisaran dan perkembangan kebudayaan pada saat itu.
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan
kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance adalah zaman
peralihan ketika kebudayaan Abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu
kebudyaan modern. Sedangkan pada Zaman modern ditandai degan berbagi penemun
dalam bidang ilmia. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesunguhnya
sudah dirintis sejak Zaman Renaissance. Seperti Rene Descartes, tokoh yang
terkenal bapak filsafat modern.
Pekmbangan ilmu pengetahuan pada zaman kontemporer
berkebang dengan sangat cepat. Masing-masig ilmu mengembangkan disiplin
keilmuannya dan berbagai macam pertemua-petemuannya. Penemuan dnan penciptaan
terjadi selih berganti dan makin sering. Informasi ilmiah diproduksi dengan
cepat, melipat dua setiap tahun, bahan dalam disiplin-disiplin tertentu seperti
genetik setip dua tahun (Jacob, 1993:19) Di sisi lain pada zaman kontemporer
ini,pengembangan ilmu juga ditandai degan terjadinya spesialisasi-spesialisasi
ilmu yang semakin menajam dalam spesialisasi dan subspesialisasinya.
6. Bab VI tentang
Etika Keilmuan mencakup Pengertian, Antara Etika, Moral, Norma, dan Kesusilaan,
Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologi, Hubungan Antara Nilai dan
Budaya serta Peranan Ilmu Terhadap Pengembangan KebudayaanNasional;
Ilmu dan moral termasuk ke dalam genus pengetahuan yang
mempunyai karakteristik masing-masing. Tiap-tiap pengetahuan mempunyai tiga
komponen yang merupakan penyanggah tubuh pengetahuan yang disusunnya. Komponen
tersebut adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Agar mendapatkan
pengertian yang jelas mengenai kaitan antara ilmu dan moral maka kajiannya
harus didekati dari ketiga komponen tiang penyangga tubuh pengetahuan yakni
ontologi, epistemolgi, dan aksiologi. Namun sebelum sampai pendekatan dari
ketiga hal tersebut dibahas dahulu tentang antara etika, moral, norma dan
kesusilaan, kemudian pengertian dan ciri-ciri ilmu. Dalam bab ini juga mengkaji
bagaimana hubungan antara etika, moral, norma dan kesusilaan, selain itu juga
mengkaji dimensi ontologis, epistemologis, dan aksilogi.
7. Bab VII tentang
Ilmu, Teknologi dan Budaya mencakup Dimensi Ilmu, Teknologi, dan Seni, Peranan
Filsafat Ilmu dalam Penjelajahan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni,
Teknologi dan Seni serta Visi Ilmu di Indonesia.
Ilmu, teknologi dan seni sebagai produk menjadi milik
manusia. Artinya ilmu, teknologi, dan seni didapat melalui pola pikir analogi
ilmiah dengan menggunakan metode keilmuan yang runtut membawa ke arah titik
temu pada suatu konklusi yang bersifat nisbi, namun terhindar dari dedikasi
silang pendapat fundamental dikalangan bagi para ilmuwan dalam kurun waktu,
sehingga terbuka untuk dimungkinkan adanya pembuktian dan pengujian akan
kebenaran.
8. Bab VIII tentang
Bagaimana Ilmu Dalam Perspektif Kemaslahatan Hidup Insani mencakup Ilmu dan
Moral,danbagimana pula Hubungan Antara Etika, Moral, Norma dan Kesusilaan serta
Tanggung Jawab Ilmuwan.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai
nilai dan moral yang menentukan danterwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup
manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok. Etika adalah perwujudan
dan pengejawantahan secarakritis dan rasional ajaran moral yang siap pakai,
sedangkam moral adalah penunjuk konkret yang siap pakai tentang bagaimana kita
harus hidup.
B. LAPORAN BAGIAN BUKU
Subbab yang saya laporkan dalam laporan bacaan ini yaitu
subbab yang membicarakan tentang logika. Dalam buku ini penulis memaparkan
logika merupakan bagian dari dasar-dasar pengetahuan. Logika penulis artikan
sebagai buah dari pikir adalah pengetahuan. Berpikir adalah suatu proses,
proses berpikir disebut sebagai bernalar. Dalam bernalar manusia melaku proses
berpikir untuk berusaha tiba pada pernyataan yang baru merupakan kelanjuatan
runtut dari pernyataan lain yang telah diketahui (The, 1999: 21). Pernyataan
yang telah diketahui itu disebut pangkal pikir (premise), sedangkan
pernyataan baru yang diturunkan dinamakan simpulan (conclusion). Cara
penarikan simpulan disebut sebagai logika. Terdapat berbagai cara penarikan
simpulan, namun dalam dunia keilmuan, secara garis dapat dibedakan menjadi dua
jenis cara penarikan simpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif.
Dalam buku ini penulis memaparkan logika deduktif merupakan
suatu cara penarikan simpulan pada suatu proses berpikir dengan menyimpulkan
sesuatu yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Suatu
penalaran dengan logika induktif dimulai dengan mengemukakan
pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas
sebagai argumentasi dan kemudian diakhiri dengan pernyataanyang bersifat umum.
Dari fakta pengamatan didapatkan kenyataan bahwa sebatang besi jika dipanaskan
memuai, demikan juga dengan sebatang tembaga, aluminium dan berbagai batang
logam yang lain. Berdasarkan individual ini dapat ditarik suatu simpulan
yang bersifat umum yakni semua logam jika dipanaskan akan memuai.
Logika deduktif adalah suatu cara penarikan simpulan pada
suatu proses berpikir yang sebaliknya dari logika induktif. Dalam proses
berpikir ini dari pernyataan yang bersifat umum ditarik simpulan yang bersifat
khusus. Penarikan simpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola pikir
silogisme. Sebagai seorang pelopor dalam logika deduktif, Aritoteles mengajarkan
silogismus kategoris yang tersusun dari tiga buah proposisi kategoris
(Poespoprodjo, 1999: 206). Berdasarkan alur logika deduktif di atas dapat
dibuat contoh silogisme kategoris sebagai berikut:
a. Semua logam jika dipanaskan
akan memuai (Premis mayor)
b. Besi termasuk
logam
(Premis minor)
c. Maka jika besi dipanaskan akan
memuai (Konklusi)
Silogisme kategoris menjadi cara untuk menyelidiki
identitas atau diversitas dua konsep objektif dengan memperbandingkannya dengan
konsep ketiga secara berurutan. Kelompok lain dari ragam silogisme hipotesis.
Silogismus hipotesis dibagi ke dalam tiga jenis, yakni:
a. Silogismus kondisional, yakni
silogismus yang premis mayornya adalah preposisi kondisional.
Contoh: - Apabila Tuti rajin belajar, ia akan lulus
ujian.
- Tuti rajin belajar
- Maka Tuti akan lulus ujian.
b. Silogismmus disjungtif.
Silogismus yang premis mayornya berbentuk preposisi disjungtif.
Contoh: - Kamu atau saya yang
pergi berlomba
- Kamu tidak pergi
- Maka sayalah yang pergi.
c. Silogismus konjungtif,
silogismus yang premis mayornya berbentuk suatu preposisi konjungtif.
Contoh: - Tidak diizinkan seorang mahasiswa kulia di dua
perguruan tinggi negeri dalam waktu yang bersamaan.
- Si Rani kuliah di perguruan tinggi negeri X
- Maka Si Rani tidak kuliah di perguruan
tinggi negeri Y
Logika sebagai sarana berpikir ilmiah akan memberikan
suatu jamianan bahwa pengetahuan yang didapat sebagai hasil penarikan simpulan
atau konklusi itu adalah sahih. Logika menuntun dan menjaga proses berpikir itu
terhindar dari kekeliruan-kekeliruan, sehingga dengan demikian kecermatan dalam
berpikir dapat dicapai.