Nama : Indri aulia
Nim : 11901143
Kelas : PAI 4D
Judul : ISLAM DAN
ILMU PENGETAHUAN
JURNAL
Ilmu pengetahuan dan teknologi
terutama pada zaman modern ini, mengalami banyak perubahan dan sangat cepat,
sedang agama bergerak dengan lamban sekali, karena itu terjadi ketidak
harmonisan antara agama dan ilmu pengetahuan serta teknologi. Dalam ensiklopedi
Agama dan filsafat dijelaskan bahwa Islam adalah agama Allah yang
diperintahkan-Nya untuk mengajarkan tentang pokok-pokok serta peraturan-peraturannya
kepada Nabi Muhammad saw, dan menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut
kepada seluruh manusia dengan mengajak mereka untuk memeluknya. Salah satu ciri
yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap ilmu
(sains). Al-Qur’an dan Al-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan
mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang
berpengatahuan pada derajat yang tinggi. Apabila kita memperhatikan ayat al-Qur’an
mengenai perintah menuntut ilmu kita akan temukan bahwa perintah itu bersifat
umum, tidak terkecuali pada ilmu-ilmu yang disebut ilmu agama, yang ditekankan
dalam al-Qur’an adalah apakah ilmu itu bermanfaat atau tidak. Adapun kriteria
ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada
sang khalik sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya. Pertemuan kaum muslimin
dengan dunia modern, melahirkan berbagai aliran pemikiran, seperti aliran salaf
dengan semboyan “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”, dan aliran Tajdid dengan
semboyan “maju ke depan bersama al-Qur’an”. Pembaruan dalam Islam memang sangat
dianjurkan selama pembaruan itu tidak mengebiri ajaran-ajaran Islam yang
otentik, akan tetapi justru memperkuat, mempertinggi dan mengangkat martabat
ummat Islam dihadapan bangsa-bangsa lain di dunia.
Islam menganjurkan kepada para
pemeluknya untuk bertindak adil. Salah satu indikasi keadilan dalam tindakan
ialah membuat keputusan berdasarkan informasi yang benar dan akurat. Untuk
mendapatkan akurasi informasi diperlukan tindak penelitian. Penelitian
merupakan poros sekaligus proses menyusun ilmu pengetahuan yang muatan
informasinya benar dan akurat. Sepanjang ilmu pengetahuan itu diartikan sebagai
cara yang rasional dan empiris untuk mempelajari gejala alamiah yang terdapat
pada diri manusia dan di luar diri manusia, maka tidak ada satu pernyataan ayat
maupun hadis pun yang menentang apalagi mengharamkan aktivitas keilmuan.
Realitas adalah segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, baik realitas kongkrit
maupun realitas ghaib. Realitas kongkrit terdiri dari benda-benda mati,
tumbuhan, hewan, manusia, dan benda-benda angkasa. Realitas ghaib meliputi
setiap bentuk pewahyuan dari Tuhan kepada orang-orang yang terpilih (Nabi/
Rasul), baik Nabi yang tercantum dalam kitab suci maupun tidak. Realitas
kongkrit dapat dibaca oleh pengalaman inderawi maupun akal budi, sedangkan
realitas ghaib hanya dapat dikenali oleh manusia setelah pengalaman inderawi
dan imajinasi akal budinya mencapai titik batas kemampuannya.
Islam yang menyejarah dalam
ruang-waktu semenjak awal abad 7 Masehi sampai awal abad 21 Masehi ini
mengalami perjalanan pasang-surut seperti umumnya makhluk hidup. Para sejarawan
mencatat pasang-surut tersebut ke dalam tiga periode (Harun
Nasution,1991:12-14). Pertama yang mereka sebut dengan periode Klasik
(650-1250). Ciri umum zaman ini, secara politis/geografis wilayah kekuasaan
Islam meluas ke Spanyol di Barat serta daratan China di Timur, dan secara
intelektual wacana keilmuan yang bersumber dari penafsiran terhadap al-Qur’an
dan Hadis maupun pembacaan terhadap gejala alamiah mencapai klimaks. Kedua,
periode pertengahan (1250-1800). Ciri umum zaman ini, secara politis terjadi
disintegrasi dalam wilayah kekuasaan Islam dan secara intelektual mengalami
kemunduran: pena diganti senjata, otak diganti otot, buku menjadi barang mewah
dan pedang menjadi barang murah. Ketiga, periode modern (1800-sekarang). Ciri
umum zaman ini, secara politis wilayah kekuasaan Islam dirampas dan dijajah
oleh orang asing dan secara intelektual terpesona oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang digunakan oleh orang asing yang menjadi tuan di
rumahnya sendiri. Umat Islam yang terpesona oleh ilmu pengetahuan modern
tersebut menurut Nasim Butt (1996:60-64) memberikan reaksi yang beragam.
Tetapi, secara garis besar ada tiga kelompok pemikiran muslim mengenai ilmu
pengetahuan modern.
Cara mudah untuk memahami arti
pengetahuan ialah dengan cara membandingkan antara pengetahuan dengan
keyakinan. Keduanya berbeda meskipun mempunyai hubungan yang erat satu sama
lain. Persamaan antara keduanya terletak pada sama-sama persepsi orang tentang
sesuatu objek. Perbedaannya, kalau pengetahuan menyangkut persepsi orang
tentang objek yang dapat dibuktikan keberadaannya, sedangkan keyakinan
berhubungan dengan persepsi orang tentang objek sebelum dibuktikan
keberadaannya atau setelah proses pembuktian namun tidak ada satu faktapun yang
mendukung akan keberbadaan objek tersebut.
Islam menganjurkan kepada para pemeluknya untuk bertindak
adil. Salah satu indikasi keadilan dalam tindakan ialah membuat keputusan
berdasarkan informasi yang benar dan akurat. Untuk mendapatkan akurasi
informasi diperlukan tindak penelitian. Penelitian merupakan poros sekaligus
proses menyusun ilmu pengetahuan yang muatan informasinya benar dan akurat.
Ringkasnya, secara doktrinal, Islam tidak bertentangan dengan cara kerja ilmu
pengetahuan. Demikian pula sumber pengetahuan menurut ajaran Islam tidak
tercerai berai menjadi akal budi lawan pengalaman inderawi, atau kenyataan
kongkrit berlawanan dengan kenyataan ghaib, karena baik akal budi/pengalaman
inderawi maupun kenyataan kongkrit/kenyataan ghaib, keduanya merupakan sumber
pengetahuan yang sah sekaligus bagian terkecil dari keseluruhan ciptaan Tuhan.
Cara menyusun ilmu pengetahuan sepenuhnya hasil “ijtihad”/daya kreasi manusia.
Islam hanya berkepentingan dengan perilaku etis manusia ketika mereka mau
menggunakan hasil ijtihad mereka tersebut. Al-Qur’an menyatakan “telah jelas
dan beda antara jalan lurus dengan jalan sesat”, dan manusia dihalalkan untuk
memilah dan memilih; Apakah ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan digunakan
untuk memakmurkan bumi atau menghancurkannya; Apakah aktivitas penelitian yang
dilakukannya ditujukan untuk memberikan kesejahteraan pada sebanyak mungkin
manusia atau justeru untuk menyengsarakannya. Nestapa manusia berawal dari
kebodohannya dan berakhir dengan menyalahgunakan kepintarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar